Happy eid al Mubarak semua. Semoga Allah SWT berkenan menerima semua amalan dan ibadah puasa kita serta menyempurnakannya. Mohon maaf lahir dan batin. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H.
Ternyata sudah sebulan tidak sharing di blog. Mau sharing kajian dari Teh Karina Hakman tentang ujian dalam hidup. Tema ini terasa dekat karena sering kali hidup tidak berjalan sesuai rencana, bahkan sering kali terasa berat tanpa kita pahami alasannya.
Tulisan ini adalah pengingat bahwa ujian bukan sekadar tentang kesulitan, tapi tentang bagaimana kita meresponsnya. Belajar sabar, tawakal, dan kembali kepada Allah. Bahwa tidak ada yang benar-benar hilang, dan setiap proses, sekecil apa pun, selalu punya makna di sisi-Nya.
Ujian Itu Tentang Respons Kita
Allah ingin melihat bagaimana respons kita.
Ketika kita cepat mendapatkan sesuatu, itu juga ujian: apakah kita tetap taat, dan sadar bahwa semua itu dari Allah. Saat everything in life feels put together, manusia mudah jatuh pada ujub (takjub pada diri sendiri), bahkan sering tidak terasa – kita merasa “ini karena aku”, padahal itu juga bentuk ujian.
Di sisi lain, yang dianggap sebagai ujian biasanya justru kesulitan. Padahal kalau kembali ke hakikat takdir, bisa jadi memang belum waktunya – belum rezekinya.
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ ؕ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
“Dan Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar.”
QS Al-Baqarah:155 menegaskan bahwa kita diuji dengan rasa takut, lapar, dan kekurangan. Tapi semuanya diawali dengan “sedikit”. Kita ini takut banyak hal dalam hidup, masing-masing punya ketakutan sendiri, padahal yang Allah ambil itu hanya sebagian kecil. Yang Allah karuniakan itu jauh lebih banyak daripada yang Allah ambil.
Terkadang, apa yang kita bilang gagal, rezeki yang luput, kesempatan yang hilang – itu sebenarnya tidak ada yang benar-benar hilang. Karena hak kita itu taat, dan sebenarnya kita tidak berhak menuntut Allah apa pun. Kita ini hamba. Kita diperintahkan untuk sabar dan tawakal.
Sering juga kita terjebak: “umur segini harusnya sudah begini.”
Padahal itu tidak ada. Hidup milik Allah, takdir diatur oleh Allah. Kita tidak punya apa-apa untuk dijadikan alasan menuntut hidup kita harus seperti ini.
Belajar Sabar dan Berbaik Sangka
Allah bilang: berikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Ujian itu tanda sayang. Kalau kita sabar, Allah memberi pahala tanpa batas.
Sabar itu spektrumnya luas. Bukan cuma yang besar, tapi juga hal kecil sehari-hari. Salah satu tanda bagusnya ibadah kita terlihat dari akhlak; bukan hanya ke manusia, tapi juga Allah. Apakah kita bisa sabar? Bisa berbaik sangka kepada Allah?
Balasannya adalah ampunan, rahmat, dan petunjuk. Paket lengkap untuk tenang di dunia dan akhirat.
Tapi realitanya, ketika diuji, kita sering terkukung rasa takut.. apalagi saat dihadapkan dengan ketidakpastian. Itu yang bikin kita jadi suudzon dan susah untuk husnuzon. Kita jadi bertanya: “kapan ya datangnya pertolongan Allah?”
Padahal jawabannya sudah jelas: pertolongan Allah itu dekat.
Salah satu cara untuk bertahan adalah memahami hakikat dunia – bahwa hidup ini hanya sementara. Kita sering berlomba dalam harta dan pencapaian, padahal itu bukan tujuan akhir. Kalau kita paham ini, kita sadar: seberat-beratnya hidup di dunia, masih lebih ringan dibanding akhirat. Jadi tidak ada pilihan untuk putus asa.
Saat Semua Terasa Berat
Kalau kita tidak suka ujian Allah, kita mau pergi ke mana? Semua milik Allah. Tidak ada pilihan selain kembali ke Allah.
When we hit rock bottom, there’s no other way than up. Kita mungkin melangkah, istirahat, jatuh lagi, tapi tetap berpindah sedikit demi sedikit. Dari yang awalnya tidak ada kepastian, perlahan muncul sepercik cahaya.
Dalam Islam, ketenangan bukan karena semuanya pasti, tapi karena kita yakin ada Allah yang memastikan semuanya baik-baik saja. Kadang kita berharap dukungan manusia. Tapi justru saat ujian paling berat, manusia pergi. Itu tabiat manusia. Yang tetap ada adalah Allah. Kalau mau bertawakal, jangan ke manusia. Yang mampu menolong kita hanya Allah. Kalau kita bertawakal, Allah akan mencukupkan semua urusan kita.
Lalu, sampai kapan harus sabar? Sampai ajal datang. Tapi biasanya terasa berat karena kita merasa berjuang sendiri. Padahal ketika kita benar-benar kembali ke Allah, hati jadi lebih lapang. Masalahnya mungkin sama, tapi rasanya berbeda.
Tentang Luka, Dosa, dan Validasi
Kadang yang paling berat bukan ujiannya, tapi rasa bersalah, omongan orang, dan label. Manusia mudah memberi label, tapi sulit menghapusnya.
Tapi jangan samakan Allah dengan manusia. Manusia bisa sulit memaafkan, tapi Allah membuka pintu taubat. Saat manusia menganggap kita hina, Allah bisa mengangkat kita.
Sering kali yang membuat kita sulit move on dari masa lalu adalah karena kita ingin validasi manusia – ingin mereka tahu kita sudah berubah, sudah sukses. Padahal kita tidak butuh itu. Untuk masuk surga, kita hanya butuh satu ridha: ridha Allah. Terserah manusia mau menilai apa. Kalau Allah ridha, itu cukup.
Di dunia, tidak ada definisi hancur total. Selama kita masih hidup, selalu ada kesempatan untuk berbenah. Bahkan dosa besar bisa Allah ubah jadi kebaikan. Bukan cuma survive, tapi malah bisa thriving.
Bergerak, Bertumbuh, dan Bertahan
Sabar dan tawakal bukan berarti diam. Kita tetap harus punya tujuan dan ikhtiar. Kembali kepada Allah itu nyata – memperbaiki ibadah dan hubungan dengan-Nya. Banyak hal terasa berat karena penyakit hati: iri, suudzon, kufur nikmat, ujub. Dan itu harus dibersihkan.
Iman itu seperti benih. Ditanam, disiram, dipupuk. Tidak langsung tumbuh, tapi tetap dirawat karena kita yakin akan tumbuh. Jadi jangan terlalu keras pada diri sendiri, give yourself a chance to develop and don’t be too harsh on yourself. Karena saat kita terlalu tergesa-gesa, kita justru jatuh lagi.
Banyak dari kita juga terlalu perfeksionis. Kalau tidak sempurna, sekalian tidak usah. Padahal itu salah. Kalau satu aspek kurang, bukan berarti semuanya gagal.
Dzikir itu ringan di lisan, berat di timbangan. Amalan kecil jangan diremehkan. Dosa kecil juga jangan diremehkan. Kenali titik lemah kita, dan tutup pintu-pintu yang bisa menjatuhkan kita lagi.
Iman itu naik turun, dan itu normal. Bangkit bukan berarti selesai. Yang penting kita terus kembali, terus memperbaiki niat.
Mulai Lagi, Sekarang
Memilih untuk terus berjuang adalah bentuk self-love.
Coba bayangkan lihat diri sendiri dari luar – yang lagi capek, bingung, jatuh. Dia layak diperjuangkan. Allah sudah kasih potensi dan peluang. Tinggal kita yang memilih.
Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri. Kita memang butuh pertolongan Allah, tapi kita juga harus ambil langkah pertama. Semakin lama kita diam dalam keterpurukan, itu bentuk self-hate. Time is ticking. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Allah ingin kebaikan untuk kita. Tidak ada yang lebih sayang kepada kita selain Allah. Kalau kita mau melangkah, Allah akan mendampingi, menolong, dan melapangkan hati. Dari keterpurukan, kita bukan cuma bisa bangkit – tapi bisa jadi lebih baik, dengan rahmat Allah.
***
That’s the end. Aku menulis ini bukan untuk menggurui siapa pun, tapi justru sebagai pengingat – untuk aku sendiri juga. Aku juga masih belajar dan masih sering jatuh di hal-hal yang sama.
Ini pertama kalinya aku dengar kajian dari Teh Karin dan mungkin karena memang lagi ada di fase yang butuh diingatkan. Jadi aku merasa perlu untuk share juga di sini.
Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat – bukan cuma buat yang baca, tapi juga buat aku sendiri. Untuk terus belajar sabar, tawakal, dan kembali kepada Allah. Dan semoga ke depannya aku juga bisa lebih rajin lagi meluangkan waktu untuk dengar kajian dan tausiyah, supaya hati ini tetap dijaga. 🙂