Dingin AC itu konsisten, stabil, terkontrol.
Orang-orang duduk rapi dengan laptop terbuka, gelas kopi estetik, playlist pelan di latar. Semuanya terlihat tertata.
Lalu pintu terbuka.
Masuk seorang lelaki paruh baya. Helm masih di kepala, jaket hijau lusuh terkena panas luar. Ia berhenti sebentar di dekat pintu, menunduk ke layar ponsel lalu menyapu ruangan dengan pandangan cepat. Kemudian berjalan ke kasir. Ada sedikit jeda. Bukan karena tidak mengerti, tapi karena ruang ini bukan ruangnya sehari-hari.
Ia mendekat dan berkata pelan namun tegas:
“Permisi, ambil orderan.”
Di ruangan yang dingin dan wangi kopi mahal, ia membawa panas jalanan, debu kota, dan batas waktu. Ia tidak duduk. Tidak memesan. Tidak tinggal lama. Hanya mengambil kantong berisi dua gelas kopi, memastikan nama, memotret bukti, lalu kembali ke luar.
Satu ruangan, dua suhu.
Aku duduk nyaman. Laptopku masih terbuka.
Tiba-tiba kontras itu terasa nyata.
Yang satu membayar untuk berhenti.
Yang satu dibayar untuk terus bergerak.
Dan sering kali, yang paling sibuk justru yang paling tidak terlihat.